Sorotan:
- Rupiah melemah 94 poin ke Rp17.856 per dolar AS pada pagi ini (18/6/2026)
- IHSG dibuka turun 28,85 poin (0,46%) ke level 6.191,89
- The Fed hawkish + RDG Bank Indonesia jadi pemicu utama
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru.
Jakarta — Nilai tukar rupiah melemah 94 poin atau 0,53 persen ke level Rp17.856 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi (18/6/2026). Bersamaan, IHSG dibuka merah di level 6.191,89, turun 28,85 poin atau 0,46 persen. Dua biang keroknya: pernyataan hawkish The Fed semalam dan kepastian hasil RDG Bank Indonesia yang masih ditunggu hari ini.
Mengapa Rupiah dan IHSG Kompak Melemah Hari Ini?

Pasar keuangan Indonesia pagi ini seragam bergerak di zona merah. Bukan tanpa alasan.
Semalam, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen. Yang lebih mengguncang pasar bukan keputusannya, melainkan nada komunikasinya. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai hawkish — memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lama dan harapan pemotongan bunga tahun ini nyaris sirna.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah, dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed yang tidak berubah dan statement The Fed yang hawkish, di mana suku bunga akan tinggi dan lama, memupus harapan penurunan suku bunga satu kali di tahun ini, serta meningkatkan indeks dolar tembus di atas 100.” — Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara (ANTARA, 18 Juni 2026)
Indeks dolar AS (DXY) langsung menguat menembus angka 100. Efek dominonya? Seluruh mata uang Asia tertekan, rupiah termasuk yang paling terdampak.
Kondisi ini memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak Rabu (17/6). Pada hari sebelumnya, rupiah sudah lebih dulu ditutup melemah 37 poin ke level Rp17.762 per dolar AS, menurut data ANTARA.
Faktor Dalam Negeri: RDG Bank Indonesia Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, satu agenda besar sedang berlangsung hari ini: Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia fase kedua (17–18 Juni 2026).
Investor menunggu dengan tegang. Apakah BI akan kembali menaikkan suku bunga?
Konteksnya penting dipahami. Dalam dua bulan terakhir, BI telah menaikkan BI Rate secara kumulatif 75 basis poin. Rinciannya: 50 bps pada RDG Mei 2026, lalu 25 bps lagi melalui rapat mingguan darurat pada 9 Juni 2026 — langkah luar biasa yang diambil di luar jadwal reguler karena rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memprakirakan BI akan menahan BI Rate di 5,5 persen pada RDG kali ini. Menurutnya, pengetatan 75 bps sudah cukup signifikan dan memberi waktu untuk melihat dampaknya.
Sementara itu, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut pelaku pasar bergerak wait and see.
“IHSG bergerak mixed di tengah menantikan sejumlah agenda penting.” — Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas (Harian Jogja, 18 Juni 2026)
Tekanan Geopolitik Timur Tengah Turut Memperkeruh

Faktor ketiga yang tak bisa diabaikan adalah dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi ketidakstabilan hubungan AS-Iran. Sempat muncul optimisme soal kesepakatan yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak. Namun, Israel yang belum sepenuhnya mendukung perjanjian itu membuat ketidakpastian tetap tinggi.
Kondisi ini mendorong investor global kembali ke aset safe haven dolar AS, sehingga tekanan terhadap mata uang emerging markets termasuk rupiah semakin berat. Situasi ini bukan hal baru — sejak konflik Timur Tengah menguat akhir Februari lalu, harga minyak dunia sempat melonjak ke kisaran USD 93–94 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, menurut laporan ANTARA.
Konteks krisis ini juga yang melatarbelakangi kenaikan harga Pertamax yang sempat meroket drastis beberapa pekan lalu, sebagai dampak langsung tekanan harga energi global terhadap pasar domestik.
Dampak Nyata bagi Masyarakat

Pelemahan rupiah menembus Rp17.800 bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Ada konsekuensi nyata.
| Sektor Terdampak | Dampak Langsung |
|---|---|
| Importir bahan baku | Biaya produksi naik, margin tergerus |
| Industri manufaktur | Harga bahan impor lebih mahal |
| Konsumen | Potensi kenaikan harga barang elektronik & otomotif impor |
| Investor pasar modal | IHSG tertekan, nilai portofolio menyusut |
Sembilan dari sebelas sektor IHSG hari ini berada di zona merah. Sektor industri mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,51 persen pada perdagangan terakhir (17/6), diikuti sektor transportasi dan logistik turun 2,03 persen, serta sektor energi melemah 2,01 persen, berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC.
Gaikindo, asosiasi industri otomotif, sebenarnya sempat menyatakan optimisme bahwa stabilitas rupiah dapat menjaga harga kendaraan terjaga. Namun situasi hari ini kembali menguji ketahanan tersebut.
Apa yang Bisa Menstabilkan Pasar?

Ada dua skenario yang paling ditunggu pelaku pasar hari ini.
Pertama, hasil RDG Bank Indonesia. Jika BI memilih menahan atau bahkan menaikkan suku bunga lagi, ini bisa memberi sinyal stabilitas. Sebaliknya, keputusan yang dianggap dovish bisa memicu tekanan lanjutan pada rupiah.
Kedua, kejelasan sikap Israel terhadap kesepakatan damai AS-Iran. Jika sinyal positif muncul, harga minyak bisa turun dan tekanan terhadap aset berisiko seperti rupiah dan saham bisa mereda.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengingatkan bahwa agar penguatan rupiah bersifat berkelanjutan, arus modal asing perlu meluas dari instrumen SRBI ke Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham — bukan hanya bertumpu pada instrumen jangka pendek seperti yang terjadi saat ini.
Sementara itu, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid sebagai penopang. World Bank baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026, sementara pertumbuhan kuartal I-2026 tercatat 5,6 persen secara tahunan, menurut data Kompas/ANTARA.
Situasi serupa — tekanan ekonomi yang bertemu dengan sentimen domestik — juga terlihat dalam isu-isu lain yang tengah memanas. Di Bali misalnya, warga tengah menolak kehadiran ormas MADAS yang dinilai mengganggu stabilitas sosial — menunjukkan bahwa tekanan masyarakat tidak hanya datang dari sisi ekonomi.
FAQ: Rupiah Melemah dan IHSG Merah Hari Ini
Berapa kurs rupiah hari ini, 18 Juni 2026?
Rupiah dibuka melemah 94 poin atau 0,53 persen ke level Rp17.856 per dolar AS pada perdagangan pagi Kamis (18/6/2026), berdasarkan data ANTARA.
Kenapa IHSG merah pagi ini?
IHSG dibuka turun 28,85 poin (0,46%) ke level 6.191,89. Penyebab utamanya adalah sikap hawkish The Fed semalam yang menahan suku bunga di 3,5–3,75 persen sekaligus memberi sinyal suku bunga tetap tinggi, yang mendorong penguatan dolar AS dan tekanan pada aset berisiko global.
Apakah Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga hari ini?
Mayoritas ekonom memprakirakan BI akan menahan BI Rate di 5,5 persen. Namun keputusan resmi baru akan diumumkan setelah RDG selesai pada 18 Juni 2026.
Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat umum?
Importir dan industri yang bergantung pada bahan baku impor paling merasakan dampaknya — biaya produksi naik. Konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga barang-barang impor, termasuk elektronik dan kendaraan.
📩 Dapatkan update terbaru langsung ke inbox — pantau terus perkembangan rupiah dan IHSG di Indonesiancore.





